Kamis, 28 Agustus 2014

Tiga Model Bisnis Online yang Paling Sering Digunakan



Banyak cara meraup untung dari dunia maya. Jika jeli, ada beragam model bisnis online yang sudah jalan dan sebagian bisa ditiru dengan sedikit perubahan, atau sekadar menjiplak. Meski semuanya menjanjikan keuntungan, belum tentu realisasinya semudah itu.
Berikut ini garis besar tiga model bisnis online yang sudah sering digunakan dan sebagian sukses dan bertahan.

Jualan produk
Bisnis paling jamak di dunia maya adalah berjualan. Produknya terserah Anda, mulai buku elektronik, aplikasi perangkat lunak (software), produk elektronik, hingga barang bekas. Prinsipnya, Anda harus jeli melihat kebutuhan pasar. Paling gampang memang meniru jenis yang sudah sukses. Tapi, Anda juga bisa membidik ceruk pasar yang belum tergarap pemain lain. RajaGPS.com contohnya. Menurut Arianto Furiady, Direktur RajaGPS.com, saat mendirikan bersama beberapa teman sekitar tahun 2008, modalnya hanya Rp 500.000 untuk membuat situs penjualan alat navigasi GPS (global positioning system) buatan China. "Tantangannya merawat dan merapikan toko serta rajin mengunggah foto barang baru dan info lengkapnya," ujarnya.
Jika ingin lebih murah lagi, tak perlu membuat situs khusus. Anda bisa memanfaatkan beberapa situs mal online seperti BliBli.com, Ebay.com, Plasa.com, atau beberapa situs jejaring sosial seperti Multiply.com. Beberapa dari mereka mematok fee transaksi ke anggotanya. Tapi, ada juga yang gratis. Mau lebih murah atau tanpa biaya lagi? Coba manfaatkan modal memiliki jaringan seperti Facebook, Twitter, atau komunitas (Yahoogroups.com), Anda juga bisa memulai bisnis ini dengan modal kecil. Targetnya sudah jelas, Anda juga sudah dikenal atau dipercaya.

Bisnis iklan
Model bisnis online yang cukup marak juga adalah mengincar pengiklan. Beberapa yang terkenal antara lain model iklan baris, paid to click (PTC), paid per click (PPC), paid to survey (PTS), affiliate marketing, dan paid to review (PTR).
Selain harus bermodal situs, entah blog atau website dengan nama domain khusus, Anda juga harus memastikan pengunjung situs cukup banyak. Beberapa situs jejaring sosial seperti Multiplay dan mal online seperti TokoBagus.com mendongkrak jumlah pengunjung untuk mengincar pengiklan besar. "Saingan utama kami adalah Kaskus.us dan Tokobagus.com," ujar Daniel Tumiwa, Country Manager Multiply Indonesia.
Pendapatan dari model bisnis PTC, PPC, PTS, dan PTR didapat dari jumlah klik iklan dalam situs. Di PTC dan PPC, pengiklan akan membayar Anda sesuai jumlah klik, Anda juga harus membayarkan sebagian lagi ke pengeklik. Tarif PTC di Indonesia sekitar Rp 10–Rp 300 untuk tiap klik iklan.
Affiliate marketing juga hampir mirip. Bedanya, inti sistem ini membantu memasarkan suatu produk tanpa harus membeli produk tersebut. Anda berdiri di tengah-tengah antara penjual dan pelanggan.
Sementara mekanisme PTS dan PTR, Anda seperti punya toko jasa survei dan review (ulasan) produk. Anda membayar setiap pelanggan yang memberikan ulasan atau survei dari form Anda sediakan. Keuntungan jasa ini biasanya datang dari mitra atau perusahaan penebar survei dan pemilik merek besar. Anda bisa menetapkan fee setiap survei atau review dari pemasangan iklan.

Unggah dan unduh
Belakangan juga marak model bisnis online yang menyediakan fasilitas unggah dan unduh data, termasuk penyimpanan fail (file) atau dokumen. Contohnya, 4Shared, Rapidshare, dan Ziddu.com.
Fitur standar memang digratiskan. Tapi, jika ada pelanggan yang ingin lebih, ada tarif yang harus dibayar. Ada produk premium jasa penyimpanan file yang mematok tarif US$ 6,5 sampai US$ 90 per bulan selama satu tahun atau tergantung dari lamanya berlangganan.
Selain modalnya besar lantaran harus menyewa server, saat ini, model bisnis ini sedang tertekan oleh aksi melawan pembajakan. Situs seperti ini dianggap pendukung pembajakan.

Memegang prinsip bisnis
Meski model bisnis online beragam, ada beberapa prinsip yang benar-benar harus Anda pegang saat memulai. Pertama, tak melanggar etika atau hukum. Kedua, apa pun bisnisnya, jika Anda serius, harus ada modal. Bisnis online tak harus bermodal besar. "Tetapi jika Anda berpikir mau berbisnis tanpa modal, itu tidak bagus," ujar Daniel Tumiwa.
Ketiga, keseriusan dan keuletan. Ketekunan dalam mengelola dan membesarkan bisnis sifatnya wajib. Bisnis tak bisa besar sendiri. Anda harus membesarkan dan merawatnya. Keempat, gunakan semua bentuk pemasaran alias platform dalam berbisnis, mulai jejaring sosial, aplikasi telepon genggam, hingga media cetak atau televisi.
Pendiri sekaligus orang nomor satu di TokoBagus.com Arnold Sebastian Egg menambahkan, jika ingin sukses di bisnis ini, ada tiga hal penting lain yang harus diperhatikan. "Mendengarkan user, menampung keinginan user, dan menjaga hubungan dengan user," ungkapnya. (*)


Source



Sabtu, 16 Agustus 2014

Tips Menghitung Harga Jasa Desain



Berikut ini contoh kasus bagaimana menghitung harga desain kita yang diilustrasikan oleh seorang desainer grafis yang sudah malang melintang di dunia per-freelance-an. Cara ini bisa dipakai untuk menghitung semua jasa desainer, baik sekedar retouching foto, publishing item sampe ke corporate identity. Komponen terpenting dalam penghitungan harga jasa desain: Indeks / standar harga per jam kerja serta tahapan kerja dan proses kreatif.

METODE 1: INDEKS PER JAM KERJA
A adalah seorang desainer baru lulus, gaji fresh graduate antara Rp. 1,2 - 2jt.
Pertanyaannya, berapa indeks per jam kerja A? Kita anggap A berangan- angan bergaji 2jt/bulan:

Jam kerja: 8 jam perhari (minus istirahat)
Jumlah hari kerja sebulan: 22 hari.
Jadi indeks per jam kerja Bejo:
Rp. 2.000.000 : 8 : 22 = Rp. 11.363,-
Kita bulatkan aja biar gampang: Rp. 12.000,-
#Jadi indeks per jam A adalah Rp. 12.000,-#

Suatu ketika A dapet order bikin flyer, wah 1st customer, harus dipuasin banget nih, soalnya ngarepin ordernya bakalan kontinyu (harapan semua desainer pro,..ha..ha..) Oh ya, pro di sini bukan berarti jago ya, tapi kerja ngedesain buat cari duit.


Si klien mulai ngejelasin konten flyernya:
Triing!..dapet deh brief klien di Email..
kamu harus bikin logo, tapi harus diredraw dulu konsepnya (nge-path trace bo’). Tulungin yak, cariin foto buat bekgron skalian, Oh iya, teksnya ada nih di ms. word tapi blom lengkap, nih saya kasih printnya.Nah gini mas, bos saya maunya kamu kasih beberapa alternatif, yah biar seneng aja bos saya nanti kerjaannya kontinyu lho, kita juga mau bikin bla.bla..bla..(sebagai desainer, lu seneng gak denger kayak beginian,..gw sih udah kebal dah,..keseringan klien ngomong gini..sebenernya sih minta diservice dan diskon aja,…..he..he..)

Oh ya mas A,..bos saya tuh gaptek gak bisa buka imel, jadi nanti desainnya di print aja, anter aja ke kantor ya,..saya tunggu lho.

Pertanyaan, berapa harga desain yang harus diajukan? Cara menghitungnya:
Redraw logo: 3 jam
Browsing cari bekgron: 3 jam
Ngetik teks: 1 jam (padahal sih cuma 15 menit)
Mikirin konsep: 4 jam
Bikin sketsa desain: 4 jam
Mulai ngelayout: 1 alternatif 4 jam, 3 alternatif berarti 12 jam
Ngeprint kalo gak ada eror: 1 jam
Abis diprint merasa gak sreg, bikin revisi dulu: 2 jam
Ngeprint lagi dan nempelin ke karton hitam biar keren kalo diprensentasi-in: 2 jam
Lama perjalanan ke klien: 2 jam pp

TOTAL PROSES Pengajuan Desain: 34 jam 

Kalo ada revisi:
Desain terpilih ada 2, minta dikombinasi: 6 jam.
Ngeprint lagi: 2 jam
Balik lagi ke klien: 2 jam

TOTAL 1 kali revisi: 10 jam dengan beberapa kali kemungkinan revisi?

Misalnya 3 kali: Total 30 jam.
Eiiitt,..masih ada lagi: Nyiapin data separasi / FA
Cek warna desain yang sudah dipilih: 1 jam
Cek kualitas foto2 yang digunakan: 1 jam
Proses postcript file: 1/2 jam
Proses ke PDF high quality: 1/2 jam
Burning ke CD: 1/2 jam
Final print: 1/2 jam
Anter lagi ke klien: 2 jam

TOTAL PROSES Pra-Cetak: 6 jam JADI TOTAL JAM KERJA ADALAH: 70 jam,
dikalikan indeks per jam kerja A: Rp. 12.000,-

= Rp. 840.000,- (diluar biaya cari untung)
Pantes kan? itu METODE 1 menghitung harga untuk pengajuan desain 3 alternatif sudah termasuk data FA / Separasi.


METODE 2: BERDASARKAN INVESTASI ALAT KERJA
Untuk metode ke 2, lebih menerapkan perhitungan bisnis, dan sangat personal, karena bisa terselip target2 pribadi di sini.

B selepas D3 desain grafis dapet panggilan kerja untuk ngedesain di Irian Jaya, di puncak gunung dengan fasilitas internet yang ngebut banget karena pake satelit. B lagi video chat sama bokapnya. Gini ceritanya:
B bilang ke bokapnya kalo dia mau balik aja ke Jakarta biar deket sama bininya sekaligus deket sama sumber perputaran uang. B lagi nego supaya dapet hibah duit untuk memulai usaha desain grafis.
Ini yang diajukan B:

- Unit PC Core i7, RAM 8 Gb, 24″ LCD IPS widescreen: Rp. 8jt.
- 1 Unit PC P4 seken untuk administrasi, Rp. 2jt.
1 Unit macbook buat presentasi (biar gengsi) Rp. 10jt
Printer warna plus laserjet, Rp. 2jt
Scanner, Rp. 1,2jt
Seperangkat meja kursi Rp. 3jt
Total Rp. 26.200.000

“Gak mahal kok Pa, cuma 30jt. Mana ada usaha jaman sekarang cuma modal 30jt” kata B.
“Enak aje lu, emang usaha cukup segitu doang kebutuhan-nya? Lu mau kerja di mana? Gw gak mau lu kerja dirumah ntar lu nebeng listrik ama telpon, gw juga yang bayar!”
Galak banget emang si Papanya B.,” Hitung lagi!”
B berhitung lagi:
1 Unit PC Core i7, RAM 8 Gb, 24″ LCD IPS widescreen: Rp. 8jt.
1 Unit PC P4 seken untuk administrasi, Rp. 2jt.
1 Unit macbook buat presentasi (biar gengsi) Rp. 10jt
Printer warna plus laserjet, Rp. 2jt
Scanner, Rp. 1,2jt
Seperangkat meja kursi Rp. 3jt
Kontrak rumah buat kerja: Rp. 2,5jt sebulan, kali2 gak ada order selama 3 bulan, B ngajuin 3×2,5jt, = Rp. 7,5jt.


Takut kewalahan harus kerja sendiri, takut juga gak bisa cari order banyak, B nambahin biaya staf admin, sekaligus tukang ketik, jualan, jaga kantor, bikinin kopi. Gaji 1,5jt kayaknya cukup.3 bulan x 1,5jt = Rp. 4,5jt.
Berhubung si Papa perhitungan, biaya bensin mobil sama motor buat operasional mesti diitung juga: Kira2 buat 3 bulan Rp. 5jt.
Biaya listrik, biaya internet, uang saku,… di sini B mulai pusing dan ragu, apakah Papanya mau ngasih duit, karena setelah dihitung2 poin 10 ini. hampir 10 juta sendiri.
Akhirnya B mulai mikir2 mesti cari staf yang sehat, gak perokok, gak maen cewek / cowok, alim, rajin gak suka ngebut, soalnya B takut, kalo stafnya sakit n kenapa2, mesti bantu duit juga. Sekali lagi B mikir, mending jadi pegawai aja kali, …aduh.
“BUZZ” Papanya B ngebuzz,..heh, masih di situ gak? Berapa totalnya..?”
Total: 26,2 + 27 = Rp. 53.2 jt.

“60 juta, Pa,” Kata B.
“Biaya kuliah udah lu itung blom”
“Wah, masa diitung sih Pa…?”
“Iya dong,..lu pikir itu bukan duit? Lu itung biaya kuliah, plus biaya2 kursus yang lu ikutin. Sapa suruh kuliah di UK, pake kursus segala di US!”
Aduh, pusing gak tuh, biaya kuliah hampir 200jutaan termasuk uang pangkal. Jadi total Rp. 260jt.
“Gini, Papa pinjemin 70jt, hitung sama kuliah, trus tentuin lu mau balik modal kapan?” Astaga, si Papa itung2an bisnis sama anaknya.
Alot juga, akhirnya sepakat balik modal (ROI) dalam 3 tahun.
Sekarang kita hitung indeks jam kerja si B:
Investasi: Rp. 260jt.


260jt : 3th : 12 bulan : 22 hari kerja : 8 jam = Rp. 41.000,- /jam.
Akhirnya B dapet proyek flyer juga. Rupanya B juga dipanggil buat ngerjain flyer yang sama dengan A. Ck..ck..flyer aja dipitching..! B juga punya tahapan kerja yang sama dengan A, jadi harga yang diajukan adalah:
70 jam x Rp. 41.000 = Rp. 2.870.000,-


Kira2, desain siapa yang akan dipilih?
Apakah kreatifitas desainer akan mempengaruhi si klien dalam mengambil keputusan?
KESIMPULAN
·         Jangan jadi desainer pro kalo gak suka marketing.
·         Desainer harus bisa matematika, bukan gambar doing.
·         Desain tuh yang penting konsep, pemikiran, bukan perangkat. Jadi mesti pinter2 mutusin perangkat apa yang mo dibeli, jangan asal gengsi beli Mac, tapi kerjaan sebatas setting logo.
·         Desainer harus tahu isu ekonomi, masa setelah 3 tahun harga Joe masih 41rb sejam? Itung dong udah inflasi berapa kali? Bensin udah naik berapa kali? Rendang di resto padang sekarang berapa? Jadi ini penyebab kenapa biaya jasa kreatif di desain agency besar cukup mahal?

Source

Jumat, 15 Agustus 2014

Tips Mengatasi Besarnya Ukuran File Baliho, Backdrop dan Billboard



Tips berikut ini bisa Anda coba untuk meringankan beban kerja komputer saat mendesain baliho menggunakan Photoshop.


1. Gunakan resolusi yang rendah saja. 
 
Bahkan berdasarkan pengalaman, hanya dengan 50 pixel/inch saja Anda masih bisa mendapatkan gambar yang bagus alias tidak pecah. Resolusi yang saya maksud ini adalah resolusi balihonya, bukan resolusi elemen foto atau file pendukung lainnya (logo, ornamen dll tetap harus resolusi tinggi). 


Cara mengujinya gampang. Coba Anda klik menu View dan pilih Actual Pixels... Bila gambar tidak pecah berarti baliho masih tetap bagus karena nanti akan dilihat dari jarak jauh. Syaratnya, elemen gambar yang lain seperti foto atau pun lainnya yang Anda gunakan dalam baliho itu resolusinya tetap tinggi. Jangan coba-coba ambil gambar/foto yang size filenya berkisar 20-100 kb yang Anda dapatkan dari searching via google. Itu mah pasti pecah.

Sebisa mungkin, gunakan foto beresolusi tinggi yang biasanya ukuran filenya lebih dari 1 mb. (Foto dari kamera digital keluaran sekarang hampir semua beresolusi tinggi). Tetapi semua tergantung ukuran baliho yang ingin Anda buat. Semakin besar ukuran baliho, semakin tinggi resolusi foto dan elemen gambar yang dibutuhkan.

2. Langsung buat baliho dalam ukuran aslinya. 
Mungkin anda akan bertanya, apa itu tidak mengakibatkan berat proses kerjanya? Insya Alloh tidak, asalkan resolusinya berkisar 50 pixel/inch seperti yang diuraikan di poin 1. Dengan membuat baliho sesuai ukuran asli Anda tidak perlu takut apakah hasilnya nanti pecah atau tidak. Sebab Anda bisa langsung cek di menu
 View dan Actual Pixels di Photoshop.

Akan tetapi jika awalnya Anda buat baliho lebih kecil dari ukuran aslinya, Anda masih berspekulasi dan belum mendapat kepastian, apakah nanti ketika diperbesar sesuai aslinya semua image yang ada di baliho akan tetap bagus atau tidak. Karena yang Anda dapatkan ketika melihat View dengan Actual Pixels boleh jadi masih tajam.  Tetapi ketajaman pasti akan berkurang ketika ukuran file baliho itu diperbesar sesuai aslinya. Dan itu sangat beresiko.

3. Gunakan saja dulu mode warna RGB, karena lebih ringan dari CMYK.
Saat mendesain baliho menggunakan Photoshop, gunakan RGB saja agar lebih ringan. Penggunaan CMYK menyebabkan ukuran file membengkak. Itu pasti akan memperlambat kinerja komputer Anda. Jadi Anda ga usah kuatir dengan format RGB, toh nanti ketika Anda kirim file baliho ke jasa digital printing, mereka yang akan mengubahnya menjadi CMYK. Apa warnanya nanti tidak berubah? Memang berubah seh, tetapi biasanya masih dalam batas  yang bisa ditoleransi.

4. Jangan gunakan format TIFF sejak awal.
Gunakan saja format asli photoshop yaitu PSD ketika Anda mengerjakan baliho. Nanti ketika selesai,
 save as.. dalam format JPG untuk dikirim ke biro jasa digital printing. Nanti mereka yang akan mengubah formatnya menjadi TIFF. Tetapi kalau Anda memiliki komputer high specs, silakan saja menggunakan TIFF. Yang penting kinerjanya masih lancar dan tidakhang.

Demikian beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk mempercepat proses kerja dalam mendesain baliho menggunakan Photoshop.Barangkali Anda mungkin punya tips lainnya? Silakan bagikan di sini.


Source



Selasa, 12 Agustus 2014

Cara Membaca Kode pada Ban Mobil



Di sisi pinggir bagian luar ban tertera angka dan huruf yang semuanya mempunyai arti tertentu. Bagi Anda yang masih belum tahu cara membaca maksud dari angka dan huruf tersebut, berikut ada penjelasannya, seperti dikutip dari Kompas.com.

1. Ukuran ban

Misalkan di ban mobil Anda terdapat kode 185/70R15 80S (setiap ban punya kode berbeda), cara membacanya adalah:
- “185” menunjukkan lebar telapak ban dengan satuan milimeter, bukan diameter ban. Semakin besar angkanya, maka semakin lebar telapaknya.
- “70” menunjukkan tinggi ban dalam satuan persen dari telapak ban. Tinggi ban bisa diukur dari bibir pelek sampai telapak ban yang menempel ke permukaan aspal.
- “R” menunjukkan konstruksi ban ini radial.
- “15” menunjukkan diameter dari pelek yang sesuai. Artinya, pelek yang sesuai untuk ban dengan kode “15” ini berukuran 15 inci.
- “80” mewakili beban maksimum yang bisa ditopang setiap ban. Angka tersebut memiliki load capacity sebesar 450 kg.
- “S” melambangkan batas kecepatan maksimum ban ini dipacu. Kode H punyai arti batas maksimum 180 km/jam.

2. Usia ban

Ban juga mempunyai batas kadaluarsa, umumnya 3 tahun dari tanggal produksi atau sudah menempuh jarak 60 ribu km. Setiap pabrik ban mempunyai pengkodean yang berbeda-beda. Misalnya, 1913 yang berarti diproduksi minggu ke-19 tahun 2013. Biasanya kode ini terletak di bibir ban dekat pelek.








3. Treadwear Indicator

Tradwear Indicator adalah batas dari ketebalan ban. Tanda ini terletak persis di kedua sisi bunga ban. Biasanya terdapat garis tebal yang membentang di antara selah bunga ban. Jika ketebalan ban sudah menyentuh garis tersebut, maka ban sudah harus diganti.

KODE KECEPATAN BAN

Kode    Kec. maks (km/jam)
 P                   150
Q                  160
R                  170
S                  180
T                  190
H                  210
V                 240
W                270
Y               >300


LOAD CAPACITY
Kode          Beban Maksimum (kg)
 62                          265
63                          272
64                          280
66                          300
68                          315
70                          335
73                          365
75                          387
80 – 89              450 – 580
90 – 100            600 – 800

Minggu, 10 Agustus 2014

Resolusi untuk Desain Spanduk Digital



Ketika awal-awal saya membuat desain spanduk untuk dicetak secara digital, saya masih beranggapan bahwa semakin tinggi resolusi yang saya gunakan maka semakin bagus hasilnya. Anggapan itu sebenarnya tidak salah. Secara teori, di dunia cetak mencetak, memang demikian adanya. Namun, dalam prakteknya, jasa digital printing yang biasa melayani cetak spanduk, hanya menggunakan resolusi antara 50-60 pixel/inch.

Mengapa demikian? Apakah para penyedia jasa digital printing itu tidak paham bahwa semakin tinggi resolusi akan semakin baik hasilnya? Apakah hal ini berkaitan dengan kemampuan cetak dari mesin yang mereka miliki? Atau memang ini hanya faktor keengganan saja?

Mengenai resolusi yang diperlukan untuk desain spanduk digital, kenyataannya memang tidak perlu lebih dari 60 pixel/inch. Ada beberapa alasan yang melandasi hal tersebut, yaitu :
  1. Spanduk adalah media luar ruang (outdoor), yang nota bene akan dilihat dari kejauhan. Karenanya, cara melihat dari jarak jauh itu tidak memerlukan resolusi yang besar melainkan cukup 60 pixel/inch. Meskipun angkanya kecil, namun jika dari kejauhan akan tetap terlihat bagus/tajam hasilnya.
  2. Resolusi yang melebihi 60 pixel/inch (apalagi sampai 300 pixel/inch), hanya akan membuat dokumen menjadi berat dan prosesnya akan lambat. Karena itu, walaupun kita membuat resolusi yang tinggi karena ingin hasil yang tajam, tetap saja operator yang ada di penyedia jasa digital printing akan menurunkannya hingga 60 pixel/inch.
  3. Menghemat tinta juga menjadi pertimbangan. Semakin tinggi resolusi hasil cetakan, maka tinta yang dibutuhkan semakin banyak. So jika dengan resolusi rendah yang lebih hemat hasilnya bagus kenapa pula harus menggunakan resolusi yang tinggi.
Itulah 3 alasan yang menurut saya menjadi alasan para penyedia jasa digital printing menggunakan resolusi 60 pixel/inch. Kesimpulan ini saya ambil berdasarkan pengamatan di sebuah tempat yang melayani cetak digital untuk spanduk dekat saya tinggal. Entah untuk di tempat lain saya tidak tahu apakah sama atau tidak. Kalau menurut logika sih, mestinya sama saja.
Jadi setelah mengetahui hal tersebut, selanjutnya saya selalu menggunakan resolusi 60 pixel/inch jika ingin mendesain spanduk digital. Saya juga merasa terbantu karena dengan resolusi seperti itu, pekerjaan menjadi lebih cepat prosesnya.

Source


Selasa, 05 Agustus 2014

Tahapan Proses Kerja Kreatif di Biro Iklan



Siapapun yang merasa punya kemampuan imajinasi yang bagus dan cukup kreatif mungkin mempunyai keinginan bekerja di industri kreatif, seperti di biro iklan. Tetapi sebelum itu, ada baiknya saya informasikan tahap – tahap proses kerja kreatif pada biro iklan untuk menambah wawasan kita. Tahap – tahap tersebut sebagai berikut :

1.  AE (Account executive) menerima tugas / advertising brief dari klien yg berisi berbagai macam informasi tentang produk dan pasar.
2. Mengadakan perjanjian batas waktu pembuatan iklan antara creative director dengan klien.
3. AE (Account executive) yg bertanggung jawab mulai menyiapkan sebuah brief yang lengkap sebagai panduan atau informasi penting bagi tim kreatif. Biasanya brief ini disebut “Blue Print” yg berisi informasi antara lain target market, masalah pokok, yg harus dihadapi, gagasan menjual utama, keterangan penunjang, rumusan strategi kreatif, sasaran atau tujuan iklan dan komunikasi.
4. Kepala tim kreatif yang menangani produk tersebut mulai menetapkan tugas atau pekerjaan pada masing-masing anggota tim kreatif. Copywriter dan Art Director mulai bekerja. Mereka menyusun kata untuk digunakan sebagai naskah dan juga mulai membuat gambar-gambar (print ad, storyboard, naskah TVC, radio, dll).
5. Setelah layout kasar telah jadi dan semua siap untuk dipromosikan. Tim kreatif berdiskusi tentang apa saja yg masih kurang. Pada saat itu kepala tim kreatif memberikan saran, menerima, bahkan menolak. Setelah dianggap cukup baik, barulah dberikan kepada tim AE (Account executive).
6. Jika kinerja kerja mereka telah selesai, maka AE akan membawanya ke klien untuk dipresentasikan. Jika klien menolaknya, seperti yang sering terjadi, tim kreatif akan berfikir kembali sesegera mungkin dengan rekomendasi yang baru sampai akhirnya didapat kesepakatan.

Sekarang apa saja yg telah dibuat pada tahap layout bisa menjadi kenyataan. Art director menyiapkan tampilan iklan, ilustrasi, fotografi, dan semua materi iklan.